Pernah Nyobain Sate Jando Bandung yang Legendaris
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Pernah Nyobain Sate Jando Bandung yang Legendaris? – Jando apaan, sih, Sahabat? Jando adalah gajih alias lemak. Jadi, sate jando adalah sate lemak, lemak sapi tepatnya. Sebenernya, yang dijual bukan cuma sate jando. Ada juga sate daging ayam dan sate daging sapi. Di antara ketiga sate itu, yang paling laris adalah sate jando.

Seharusnya tidak susah menemukan lokasi sate jando, karena lapak sate ini berada di kawasan yang cukup terkenal di Bandung, yakni di belakang Gedung Sate. Lokasi persisnya ialah di trotoar depan Universitas Padjajaran gedung Magister Ekonomi Terapan.

Yup, lapak sate jando Bandung yang legendaris bukan berupa restoran atau warung atau depot, melainkan tempat makan di pinggir jalan. Tapi, jangan salah. Pelanggannya banyak banget, apalagi saat jam makan siang atau hari Minggu. Mereka bahkan rela mengantre berjam-jam lamanya demi menikmati sate jando.

Seporsi sate jando berisi 10 tusuk sate plus lontong. Harganya Rp25.000. Untuk sate jando, satu tusuk berisi dua lemak. Untuk sate ayam atau sapi, satu tusuknya berisi tiga daging. Penyajiannya ialah dengan ditempatkan di atas daun pisang yang di bawahnya dialasi kertas pembungkus nasi.

Sate jando memang berlokasi di Bandung, tapi penjualnya berasal dari Klaten, Jawa Tengah. Namanya Ngatemi. Ia berjualan sate jando sejak 1960-an. Udah lama banget, ya? Pantes aja dibilang legendaris.

Awalnya, Ngatemi berjualan berkeliling sambil menggendong barang dagangannya. Pada 2000, ia baru mulai berjualan di belakang Gedung Sate. Kini, usaha sate jando diteruskan oleh anaknya.

Sate jando Bandung yang legendaris buka setiap hari dari pagi sampai malam. Pada Senin – Jumat, buka pukul 8.30. Pada Sabtu dan Minggu, buka pukul 7.00. Saking ramainya pembeli, setiap harinya penjual sate jando menghabiskan 50 – 90 kg daging. Banyak kali, yaaa.

Sebelum dibakar, sate jando dibumbui rempah-rempah, seperti jahe, kunir, dan daun sirih. Setelah dibakar, diberi bumbu kacang dan kecap. Bumbu kacang inilah yang membuat sate jando banyak diminati. Bumbunya cukup kental dan resepnya merupakan racikan Ngatemi yang hingga kini masih dipertahankan.

Lapak sate jando pernah pindah ke depot-depot gitu. Tapi, ya gitu, pelanggannya tidak sebanyak saat jualan di trotoar. Akhirnya, depot-depot tadi ditutup dan lapak sate jando kembali ke trotoar. Kayaknya, emang udah di situ, ya, hokinya.

Sumber : blog misteraladin

Baca Juga :