6 Nasi Khas Jawa dan Cerita Unik Dibaliknya

  • 3 menit waktu baca
  • Sunday, 22 March 2020

Kekayaan kuliner di Indonesia memang seolah gak ada habisnya. Apalagi kalau bicara soal masakan khas di setiap kota yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Gak cuma punya rasa yang lezat, tapi, setiap sajian itu juga menyimpan cerita unik. Khusus di Pulau Jawa, di sejumlah kota terdapat beberapa jenis kuliner berbahan dasar nasi yang menjadi menu andalan, lengkap dengan asal-usulnya yang menarik untuk diketahui. Kira-kira apa saja ya? Yuk, simak ulasan TemanPetualangDotCom berikut ini!

Nasi Jamblang

Nasi khas Jawa yang pertama akan kita bahas adalah nasi jamblang. Asal usul kuliner ini diawali saat pemerintah Belanda tengah menjalani proyek pembangunan di wilayah Palimanan, Cirebon. Proyek ini melibatkan banyak pekerja pribumi yang lantas mengalami masalah kelaparan karena bekal nasi berbungkus daun pisang yang mereka bawa dari rumah menjadi cepat basi. Untungnya, sekelompok masyarakat dari Desa Jamblang kemudian datang dan memberikan solusi dengan memperkenalkan daun jati berpori-pori besar yang bisa membuat nasi lebih tahan lama.

Seiring berjalannya waktu, nasi jamblang pun menjadi makanan khas Cirebon yang bisa ditemukan dengan mudah di berbagai sudut kota. Nasi jamblang umumnya dinikmati dengan berbagai macam lauk, seperti telur puyuh, perkedel, telur balado, balakutak (cumi yang ditumis dengan tinta hitam), tahu kuah pedas, sate usus, dan lain-lain.

Nasi Krawu

Selanjutnya adalah nasi krawu. Dikenal sebagai makanan khas Gresik, nasi krawu awalnya berasal dari Madura yang kemudian dibawa dan diperkenalkan ke Kota Gresik. Memiliki peminat yang cukup banyak, hingga kini nasi krawu menjadi kuliner andalan yang selalu dicari-cari. Nama nasi krawu sendiri diambil dari kata krawu yang berarti mengambil sesuatu dengan tangan. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa penjaja kuliner ini selalu menggunakan tangan saat menyajikannya. Seporsi nasi krawu biasanya disajikan dengan daging suwir, serundeng, dan sambal. Selain itu, sahabat juga bisa menambahkan babat, usus, dan hati sebagai pelengkap.

Nasi Liwet Sunda

Seperti yang sudah kita tahu, ada dua macam nasi liwet yang populer di Indonesia. Yang pertama adalah nasi liwet sunda. Hidangan ini merupakan perpaduan beras, sereh, daun salam, bawang merah, bawang putih, garam, dan lada yang dimasak bersamaan. Setelah matang, makanan ini disajikan dengan lauk pendamping, seperti ikan asin, ayam goreng, tahu dan tempe goreng, lalapan, dan sambal. Biasanya, nasi liwet sunda bisa sahabat temukan di acara-acara khusus di mana nasi disajikan memanjang di atas daun pisang atau biasa disebut dengan ‘tradisi ngaliwet’.

Nasi Liwet Solo

Nah, kalau nasi liwet solo memang sedikit berbeda dengan nasi liwet sunda. Nasi liwet solo lebih mirip dengan nasi uduk karena proses pembuatannya yang menggunakan tambahan santan kelapa. Makanan legendaris ini biasanya disajikan bersama suwiran ayam ungkep, telur dengan areh atau sari santan kental, sayur labu siam, hati dan ampela ayam, telur, tahu, dan tempe bacem, serta kerupuk rambak. Menurut sejarah, nasi liwet solo merupakan simbol penolak bala yang menjadi bagian dari tradisi masyarakat Jawa. Tak heran kalau menu yang satu ini selalu hadir di berbagai acara selamatan atau perayaan hari besar di Kota Solo, seperti saat Maulid Nabi Muhammad SAW.

Nasi Gandul

Merupakan masakan khas dari Pati, Jawa Tengah, nasi gandul memiliki asal-usul yang cukup unik. Nama nasi gandul konon terinspirasi dari cara penyajiannya, yakni di dalam piring yang telah dilapisi dengan daun pisang, kemudian diberi kuah, sehingga nasi dan kuah tersebut mengambang atau menggantung, yang dalam bahasa Jawa berarti gandul. Nasi gandul secara sepintas mirip hidangan soto betawi atau nasi gulai karena perpaduan nasi putih yang disajikan dengan potongan daging sapi berkuah santan. Sebagai pelengkap, nasi gandul kerap dinikmati bersama perkedel, tempe goreng, tahu bacem, dan jeroan sapi.

Nasi Megono

Yang terakhir, sajian nasi khas Jawa yang cukup populer adalah nasi megono dari Pekalongan. Kehadiran nasi megono berawal dari budaya Keraton Yogyakarta yang kerap menyiapkan sesaji untuk Upacara Bekakak. Nasi tumpeng megono yang dilengkapi dengan urap gori (nangka muda) ini digunakan sebagai ritual dan doa kepada Dewi Sri agar hasil panen melimpah dan makmur.

Namun kini, nasi megono sudah menjadi makanan rakyat yang tidak lagi disajikan dalam bentuk tumpeng. Nasi megono terdiri dari nasi putih dengan urap gori yang telah dimasak bersama kelapa parut, aneka cabai dan bawang, bunga kecombrang, serta bumbu lainnya. Hidangan ini akan lebih lezat jika disantap dengan lauk, seperti tempe atau tahu goreng, telur pedas atau telur pindang, ayam goreng, ikan asin, dan sambal.

Itu dia ragam sajian nasi yang tersebar di beberapa kota di Pulau Jawa. Selain lezat, sajian tersebut juga biasanya dijual dengan harga yang terjangkau, lho. Jadi gimana, makin penasaran pengin coba kan? Makanya, tunggu apalagi? Yuk, bikin rencana perjalanan sahabat bareng keluarga maupun sahabat buat eksplor kuliner favorit yang ada di sana!